
Apapun posisi Anda, baik bisnis skala besar atau kecil pasti menghadapi siklus pembelian. Semakin Anda memahaminya, maka semakin baik pula Anda menyelami bagaimana pola pikir konsumen dan memahami perilaku mereka.
Jika dipikirkan lebih jauh, semua orang pasti berada di satu titik di dalam siklus pembelian. Ketika Anda ke warung dan membeli segelas air mineral, sampai ke sebuah showroom untuk membeli mobil baru. Begitu pula saat Anda menjual kopi, sampai menawarkan jasa akuntan. Seluruhnya ada di dalam siklus ini.
Agar Anda lebih mudah memahami bagaimana perilaku konsumen, mari telusuri lebih lanjut seperti apa siklus pembelian dilansir dan disadur dari Profitwell berikut ini.
1. Masalah atau Kebutuhan
Pada tahap ini pembeli menyadari bahwa ia memiliki suatu masalah atau suatu kebutuhan yang perlu disampaikan. Pemicunya bisa saja bersifat internal. Contohnya seperti rasa haus maka ia membutuhkan air minum.
Pemicu lain juga bisa datang dari eksternal. Misalnya seseorang melihat sebuah iklan perumahan yang baru dibuka. Begitu ia melihat iklan itu, kemudian timbul keinginan di dalam dirinya untuk berkunjung ke sana.
2. Mencari Informasi
Tahap kedua dari siklus pembelian ini adalah calon pembeli mencari informasi. Mereka akan mencari ke berbagai sumber. Misalnya saja mencarinya via online, melihat iklan, mengobrol bersama teman, mencari ulasan di Google dan lain sebagainya.
Akan tetapi tahapan ini tidak selalu terjadi di dalam siklus pembelian. Di sisi lain tahap siklus ini penting sekali untuk menuju ke arah pembelian yang lebih besar. Contohnya saja ketika seseorang akan membeli barang-barang yang bersifat mewah atau berpengaruh pada kondisi keuangan seperti pembelian mobil atau rumah pertama.
3. Evaluasi Alternatif
Ketika calon pembeli sudah mulai mencari informasi, tetap keputusan untuk membeli atau tidak bukanlah sebuah proses yang sederhana. Ketika mereka mengevaluasi berbagai pilihan berbeda, prosesnya lebih dalam dari yang terlihat di permukaan.
Semua itu terjadi karena keputusan pembelian kembali lagi bagaimana kepribadian, gaya hidup, dan situasi calon pembeli. Bisa saja mereka memutuskan untuk membeli berdasarkan impuls mendadak. Tetapi di sisi lain ada kemungkinan juga calon pembeli mengambil keputusan setelah mempertimbangkan banyak faktor, seperti harga atau ulasan online.
4. Memutuskan untuk Membeli
Pada siklus pembelian, tahap ini merupakan tingkatan ketika calon pembeli berubah menjadi pembeli. Di sinilah pembeli akhirnya mengambil keputusan setelah mereka mempertimbangkan seluruh pilihan alternatif, riset, penggalian informasi, dan akhirnya mereka mengerucutkan seluruh masukan itu menjadi satu pilihan terbaik menurut mereka.
Tetapi biasanya keputusan ini timbul dari sejauh apa manfaat yang akan didapatkan oleh pembeli ketika mereka membeli sebuah produk atau jasa. Pertimbangan akan manfaat inilah yang seringkali mengungguli pertimbangan yang lain.
Contohnya saja Anda ingin membeli sepatu. Ketika sampai pada dua pilihan sepatu yang sama bagusnya namun dengan merek berbeda, Anda harus mengambil satu pasang saja. Bisa saja Anda memilih satu pasang sepatu berdasarkan harga, karena Anda merasa manfaatnya sama saja namun kondisi dompet Anda lebih terkendali.
Atau Anda juga bisa saja memilih sepatu yang lebih mahal karena Anda merasa sepatu itu lebih nyaman dan orisinil dibandingkan merek yang satunya lagi. Untuk Anda, orisinalitas adalah yang paling penting dibanding harga.
Apapun keputusan seseorang untuk membeli, mereka akan mempertimbangkan manfaat apa yang mereka dapatkan. Tetapi yang perlu Anda ingat, manfaat bagi orang yang satu bisa jadi berbeda untuk orang yang lainnya.
5. Perilaku Pasca Pembelian
Ketika seseorang sudah membeli, tahap siklus pembelian ini masih belum selesai. Sebab masih ada tahap berikutnya yaitu bagaimana perilaku seseorang pasca ia membeli sesuatu.
Pada tahap ini, pembeli akan memutuskan apakah ia akan merasa puas atau justru tidak puas atas keputusan yang mereka ambil. Harapan yang mereka miliki harus sejalan dengan performa produk itu sendiri. Jika keselarasan antara harapan dan yang mereka dapatkan itu berhasil mereka rasakan, maka rasa puaslah yang akan muncul.
Tetapi jika antara harapan dan kenyataan tidak sejalan, maka kemungkinan besar pembeli itu akan merasa kecewa atas keputusan pembelian yang mereka ambil.
Penutup
Siklus pembelian bisa saja terjadi dalam beberapa detik, atau bisa saja bertahun-tahun. Semua kembali kepada apa yang akan dibeli oleh seseorang. Selain itu, tergantung juga pada apa yang akan mereka beli. Contohnya saja, Anda akan membeli sepeda motor. Bisa jadi Anda membutuhkan waktu untuk mencapai ke tahap pembelian lebih lama dibandingkan jika Anda akan membeli t-shirt.
Hal yang paling penting adalah Anda memiliki kepekaan akan siklus pembelian ini, baik ketika Anda menjadi penjual atau konsumen. Sebagai penjual, Anda akan lebih mudah memahami pola pikir konsumen Anda.
Demi memberikan pertimbangan yang lebih baik akan pengalaman yang konsumen dapatkan saat berinteraksi bersama Anda, berikanlah nilai tambah berupa aneka merchandise bisnis. Dengan begitu, konsumen akan merasa menjadi bagian dari bisnis Anda. Pengalaman yang mereka dapatkan juga lebih baik karena mendapatkan sesuatu dari Anda bahkan sebelum mereka “berkorban”.
Pemberian merchandise ini dapat menjadi pertimbangan penting bagi calon konsumen untuk membeli produk atau jasa Anda. Yuk, segera cetak dan berikan merchandise kepada konsumen tercinta Anda!
Baca juga: Apa Itu Model AIDA?
