Belajar dari Kasus Warkopi dan Hubungannya dengan Prinsip ATM

  • Post author:
  • Post category:Blog
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:5 mins read
Image by Cottonbro from Pexels

 

Beberapa waktu belakangan ini, dunia seni lawak Indonesia ramai dengan kasus Warkopi vs Warkop. Warkopi ramai dianggap melakukan plagiarisme. Yuk belajar dari kasus Warkopi ini dan mulai menggunakan prinsip ATM yang baik. 

Ada hal menarik dari kasus Warkopi yang baru saja ramai. Tanpa bermaksud mencari siapa yang benar dan salah, namun kamu perlu amati kasus ini. Karena di dalamnya terdapat banyak pelajaran berharga. Pelajaran yang paling penting adalah sejauh apa seseorang dapat “meniru” identitas orang lain.

Prinsip ATM (Amati Tiru Modifikasi)

Sebetulnya tidak ada salahnya jika kamu meniru orang atau identitas lain yang sudah ada. Namun masalah dapat muncul apabila kamu mulai melakukan transaksi di dalamnya. Contoh mudah, kamu mengontrakkan kamar di rumah kamu. Setelah beberapa lama ternyata kamar tersebut dikontrakkan kembali kepada orang lain oleh si pengontrak sebelumnya dengan harga lebih tinggi.

Tentu kamu dirugikan selaku pemilik bangunan dan kamar yang sah. Karena jika terjadi hal yang tidak diinginkan, kamu tetap bertanggung jawab sebagai pemilik bangunan.

Begitu pula dengan hak cipta dan merek. Jika kamu menjual sesuatu yang brand-nya sudah dimiliki oleh orang lain, maka kegiatan komersial kamu dapat dianggap plagiat. Hal ini terjadi karena kamu dianggap meniru dan memperjualbelikan entitas dan identitas yang bukan milikmu.

Lalu bagaimana cara menyikapinya?

Solusi paling tepat adalah kamu bisa menerapkan prinsip ATM, yaitu amati, tiru dan modifikasi.

Amati

Jika menilai dari kasus Warkopi, sebetulnya adalah hal wajar jika ada anak muda yang senang mengamati sesuatu. Apalagi jika yang diamati tersebut adalah sesuatu yang popularitasnya sebesar Warkop. Namun pastikan setelah kamu mengamati, kamu cari sesuatu yang berbeda dari yang kamu amati itu.

Cara mengamati yang baik adalah kamu amati bagaimana cara mereka menjalankan bisnisnya. Kamu perhatikan bagaimana proses yang mereka jalani. Kamu pelajari pula strategi pemasaran apa yang mereka lakukan.

Kamu juga bisa amati media sosial mereka. Dari berbagai media itu kamu bisa menilai apa saja kelebihan, kekurangan, dan peluang kamu sendiri jika kamu ingin terjun ke bidang yang sama.

Tiru

Kamu harus memahami bahwa yang dimaksud dengan “tiru” disini bukanlah menjiplak seluruh bagian dari yang kamu amati.

Seseorang yang mengamati Cristiano Ronaldo dapat hafal seluruh gerakannya. Namun tentu kondisi fisik antara Ronaldo dan orang lain tentu berbeda bukan? Dari pengamatan ini, dapat lahir pesepakbola lain yang memiliki kemiripan dengan gaya Ronaldo, namun dengan ciri khas tersendiri.

Agar kamu tidak terjebak ke dalam plagiarisme, ada beberapa panduan meniru yang bisa kamu ambil. Kamu dapat meniru hal-hal berikut ini:

  • Prinsip yang dipegang
  • Bagaimana sistem manajemen pihak yang kamu amati itu
  • Seperti apa pola kerjanya (mis: kamu tiru durasi latihan Ronaldo setiap harinya)
  • Seperti apa proses produksi yang dilakukan
  • Strategi pemasaran apa yang dilakukan oleh mereka
  • Seperti apa standar pelayanannya
  • Mental seperti apa yang mereka miliki

Hal-hal diatas merupakan elemen yang dapat dikategorikan sebagai pola pikir. Contohnya saja kamu meniru Warkop dengan membuat grup komedi beranggotakan tiga orang. Di dalamnya kamu meniru pola latihan yang mereka lakukan, bagaimana cara Warkop melakukan riset bahan-bahan komedinya, dan bagaimana warkop menargetkan pangsa pasar mereka.

Larangan keras yang tidak boleh kamu tiru adalah logo, merek, judul karya, dan hal lain yang sudah dilindungi oleh hukum.

Modifikasi

Prinsip terakhir dari prinsip ATM adalah “modifikasi.” Sebetulnya dengan melakukan pengamatan dan peniruan kamu sudah dapat menjual sesuatu yang serupa seperti dengan yang sudah ada. Akan tetapi jika kamu hanya sekedar meniru dan mengamati saja, hasil yang kamu dapatkan tidak ada bedanya.

Contohnya saja kamu menjual roti. Dari sekian banyak roti yang ada di pasaran, kamu harus menawarkan sesuatu yang berbeda dari yang lain. Sesuatu yang berbeda itu dapat dihasilkan dari rasa, kemasan, atau bahkan cara penjualan.

Misalnya kamu menjual produk roti kamu dengan cara memberikan tagline yang lucu. Kamu juga bisa menjual produk roti kamu dengan racikan khas. Misalnya saja roti yang kamu jual adalah roti yang enak dan mahal, tetapi menggunakan bahan-bahan premium.

Cara lain misalnya kamu rekam seluruh proses produksinya sejak masuk dapur sampai dengan ke tangan pelanggan. Seluruh kisah perjalanan produksi itu dapat menjadi sesuatu yang unik dan menarik dibandingkan pesaing kamu.

Melakukan modifikasi tertentu terhadap barang atau jasa memang membutuhkan upaya tersendiri. Bahkan diperlukan riset, latihan, dan lain sebagainya.

Agar proses modifikasi berjalan baik, maka kamu harus melakukan proses mengamati dengan sungguh-sungguh rinci. Jika kamu mampu mencatat apa saja yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh pesaing kamu, maka proses modifikasi dapat lebih mudah.

***

Dari kasus Warkopi yang ramai belakangan ini, kita dapat belajar pentingnya prinsip ATM.

Prinsip ATM terdiri dari Amati, Tiru, dan Modifikasi. Pertama kamu amati hal-hal penting yang dilakukan oleh brand yang sudah muncul lebih dulu. Apa saja keunggulan dan kelemahan mereka. Kemudian kamu tiru berbagai prinsip kerja yang mereka lakukan.

Kamu dapat meniru bagaimana etos kerja mereka, prinsip yang mereka pegang dan hal lain yang menyangkut mentalitas bisnis yang mereka miliki.

Terakhir kamu lakukan modifikasi agar barang atau jasa yang kamu tawarkan memiliki perbedaan dari bisnis yang sudah ada.

Dengan melakukan prinsip ATM, kamu dapat terhindar dari plagiarisme. Bisnis kamu pun dapat lebih berkembang dan tidak tersandung masalah etika dan hukum di dunia usaha.

Leave a Reply